Leave a comment

FotoQ Imyut….!!!!!!

Posted Mei 21, 2011 by susanimyut in Uncategorized

pembelajaran: REDEFINISI BUTA HURUF   Leave a comment

Oleh: Andrias Harefa*


Belajar selalu merupakan pemberontakan.Tiap bit penemuan kebenaran baru bersifat revolusioner terhadap apa yang sebelumnya dipercayai. [Margaret Lee Runbeck]

Dr. Ahmad Syafii Maarif, Ketua PP Muhammadiyah, dalam berbagai kesempatan menyatakan kepihatinannya terhadap hasil-hasil pendidikan sekolah formal di negeri kita ini. Namun, untuk tidak terjebak pada pesimisme, ia juga mencoba mengingatkan bahwa secara kuantitatif sudah ada kemajuan. Setidaknya dikatakan bahwa pada masa awal Indonesia merdeka, jumlah penduduk yang buta huruf mencapai angka 90-an persen. Sementara dewasa ini, penduduk yang masih belum bisa membaca dan menulis berkisar antara 10-15 persen. Jadi, sambil terus berusaha memperkecil angka-angka kuantitatif itu, semua pihak seharusnya ikut aktif dalam mengusahakan peningkatan kualitatif atau mutu dunia persekolahan.

Amat sangat jelas bahwa upaya meningkatan mutu dunia persekolahan sudah barang tentu memerlukan biaya yang tidak kecil. Masalahnya, sepanjang sejarah republik ini berdiri, anggaran pendidikan yang dicantumkan di APBN tidak pernah melampaui angka 7 persenan atau sekitar 1 persen dari pendapatan nasional (idealnya 20-an persen atau sekitar 3-4 persen dari pendapatan nasional). Walau kita sering mendengar bagaimana politisi di DPR dan pejabat-pejabat pemerintahan mengatakan bahwa pendidikan itu penting, tetapi ketika sampai pada soal anggaran pendidikan, makna “penting” itu menjadi begitu tidak jelas, kecuali sebagai basa basi politik. Ada kesan bahwa pendidikan dianggap penting, tetapi bukan faktor yang menentukan masa depan bangsa ini. Atau kita masih selalu terjebak dalam perspektif jangka pendek dan gagal mengembangkan perspektif jangka panjang.

Di luar institusi politik, kesadaran akan pentingnya pendidikan dan pelatihan juga belum memadai. Dalam industri perbankan, misalnya, anggaran yang diwajibkan untuk dialokasikan ke bidang pendidikan dan pelatihan baru 5 persen dari total anggaran personalia, yang tentu saja jauh lebih kecil di bandingkan total pendapatan perusahaan (bank terkait). Andai dari total pendapatan perusahaan anggaran personalia mencapai angka 30-an persen, misalnya, maka 5 persen dari jumlah itu setara dengan 1,5 persen dari total pendapatan perusahaan. Itu pun sudah merupakan angka yang sangat optimis. Dalam industri barang yang bukan jasa, angka-angkanya akan nampak “mengerikan”. Coba saja tanyakan berapa anggaran pendidikan dan pelatihan untuk buruh-buruh pabrik di berbagai kawasan industri. Boleh jadi mendekati angka nol besar.

Jadi, dalam soal anggaran pendidikan, baik wakil-wakil rakyat di DPR, pejabat di lembaga eksekutif, maupun para profesional dunia bisnis yang duduk di kursi empuk manajemen puncak perusahaan, semuanya masih gombal semua.

Disamping soal anggaran, kita masih harus menghadapi masalah rendahnya profesionalitas para praktisi di bidang pembelajaran dan pelatihan. Mencari pengajar-pengajar yang bermutu ibarat mencari jarum di tengah jerami. Kita juga sangat sulit mendapatkan pustakawan-pustakawati yang handal dalam mengelola perpustakaan agar dapat dijadikan pusat-pusat pembelajaran, baik bagi dunai persekolahan maupun bagi masyarakat umum. Tidak banyak praktisi di bidang pembelajaran yang berkemampuan untuk dapat merancang kurikulum atau program pembelajaran yang relevan dengan situasi dan konteks di sekitarnya.

Belum lagi soal perbaikan dalam hal metodologi mengajar yang umumnya sudah sangat kadaluarsa. Ibarat makanan yang jelas sudah lewat masa konsumsinya (expired), yang terakhir ini mengakibatkan kaum muda teracuni potensi kreativitasnya dan bukannya berkembang menjadi manusia-manusia kreatif. Dan itu sudah berlangusng sekian puluh tahun (jangan heran kalau sekarang kita melihat lahirnya generasi gerombolan yang anonim, selalu mencari jalan pintas, suka mengandalkan kekerasan fisik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kedewasaan dan kemandirian).

Dampak berikutnya dari masalah anggaran dan personalia yang berkualitas rendah itu adalah amburadul-nya manajemen pendidikan pada tingkat pusat sampai ke daerah, bahkan sampai ke sekolah dan perguruan tinggi. Sudah berapa banyak badan dibentuk, tapi tak jelas juga apa yang sesungguhnya bisa diharapkan dari itu semua. Tak jelas bagi masyarakat apa saja yang telah dilakukan oleh Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, Komisi Nasional Pendidikan, dan Komite Reformasi Pendidikan.

Walau pun kita mengetahui bahwa ada begitu banyak pakar pendidikan yang dilibatkan dalam lembaga-lembaga bentukan Departemen Pendidikan Nasional itu, namun tidak pernah jelas apakah suara mereka benar-benar didengar dan rekomendasinya di laksanakan sebagaimana seharusnya. Atau itu semua hanyalah semacam strategi public relations untuk memberi kesan (image) kepada masyarakat bahwa pemerintah peduli, padahal sebenarnya tidak.

Tanpa harus terjebak dalam pesimisme yang destruktif, tulisan ini hanya menggambarkan dan mengingatkan kembali peta permasalahan sebagaimana adanya (as it is). Sebab untuk dapat sungguh-sungguh memecahkan masalah dunia pendidikan, kita pertama-tama perlu bersepakat bahwa sejauh ini kita telah gagal hampir dalam semua hal (utamanya dalam soal anggaran, kualitas praktisi pendidikan, dan manajemen pendidikan itu sendiri). Ini harus kita akui terus terang.

Berbagai indikator yang bersifat mikro maupun makro, seperti pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Ki Supriyoko dalam salah satu tulisannya di harian Kompas, menunjukkan kegagalan kita. Indikator mikro mencakup rendahnya prestasi IPA siswa kita (versi TIMSS), rendahnya prestasi matematika (versi IMO), rendahnya kemampuan membaca anak (versi World Bank), dan rendahnya kualitas perguruan tinggi di Indonesia (versi Asia Week). Sementara indikator makro menyangkut soal rendahnya kualitas manusia Indonesia (versi UNDP), daya saing ekonomi yang memprihatinkan (versi IMD), rendahnya angka harapan hidup (versi WHO), dan sebagainya. Jadi, perlu bukti apa lagi?

Bila kita sudah sepakat mengakui kegagalan kita, maka barulah dapat diharapkan kita merencanakan langkah-langkah perubahan secara konstruktif dengan perspektif jangka panjang. Dan itu adalah pertanda utama bahwa sebagai bangsa –terutama elite politik– kita benar-benar belajar. Bukankah hakikat belajar itu sendiri berarti berubah ke arah yang lebih baik?

Sebagai salah satu arahan ke masa depan, marilah kita bersepakat untuk mengeliminasi jumlah penduduk yang buta huruf. Akan tetapi, pengertian “buta huruf” itu sendiri perlu kita redefinisikan ulang. Disamping mencakup pengertian kuantitatifnya, “buta huruf” juga harus diberi makna kualitatif. Dalam hal ini baik diingat bahwa futurolog sekaliber Alvin Toffler pernah mengatakan bahwa, “Mereka yang buta huruf (illiterate) di abad ke-21 bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang-orang yang tidak bisa belajar, melupakan ajaran-ajaran masa lalu yang tidak benar, dan kembali belajar (learn, unlearn, and relearn)”. Pengertian ini dapat kita gunakan sebagai acuan awal. Selanjutnya, langkah-langkah revolusioner perlu dilakukan secara konsisten dengan menggunakan berbagai indikator mikro dan makro seperti yang telah disebutkan di atas.

Jadi, bila kita dapat mendorong pemerintah untuk meningkatkan anggaran pendidikan, menyampaikan program-program alternatif guna meningkatkan profesionalitas para praktisi di bidang pembelajaran, dan terus menerus memperbaiki masalah manajemen pendidikan dalam keluarga, manajemen pendidikan pada tingkat rukun tetangga dan rukun warga sampai kelurahan, lalu manajemen pendidikan berbasiskan sekolah, universitas, sampai ke dunia kerja, maka dalam 20-40 tahun ke depan kita masih boleh mengharapkan adanya perubahan yang signifikan dalam kehidupan bangsa dan negara ini secara keseluruhan. Karenanya, mari kita serukan bersama: Indonesia Belajarlah!

Apakah ajakan ini berlebihan?

Posted September 1, 2010 by susanimyut in Uncategorized

tips belajar: Memilih Buku “Lokal”   Leave a comment


Oleh: Andrias Harefa *

Memilih buku “lokal”yang bermutu—dalam arti karya anak bangsa sendiri, bukan terjemahan— tidak selalu mudah. Apalagi bagi mereka yang baru mulai “bergaul” dengan buku dan ingin memastikan pilihannya adalah bacaan bermutu. Ada begitu banyak pilihan dan setiap hari pilihan itu bertambah banyak jumlahnya. Berikut beberapa saran yang perlu diperhatikan agar tak salah menjatuhkan pilihan.

Pertama, kenali minat Anda. Fiksi atau nonfiksi? Ilmiah akademis atau ilmiah populer? Filsafat, teologia, agama, ekonomi, politik, sosial, budaya, pemasaran, pengembangan diri, psikologi, sosiologi, manajemen, atau apa?

Kedua, perhatikan pengarangnya. Setiap bidang kajian, baik bersifat informatif, edukatif, atau pun rekreatif, memiliki pakarnya masing-masing. Mereka biasanya dikenal karena publikasi yang luas di media cetak maupun elektronik. Nama pengarang tertentu dapat memberikan gambaran minimum tentang mutu karyanya.

Ketiga, perhatikan penerbitnya. Hal ini penting terutama bila kita tidak mengenal pengarang terkemuka di bidang yang kita minati. Pilih saja penerbit buku terkemuka yang umumnya selektif menerbitkan karya penulis, mengingat mereka ikut mempertaruhkan nama besarnya dengan menerbitkan jenis buku tertentu.

Keempat, perhatikan judulnya. Pengarang yang baik tidak akan memberikan judul sembarangan. Dan judul yang baik seharusnya mewakili pesan-pesan pokok yang ingin disampaikan oleh penulisnya, terutama untuk buku nonfiksi.

Kelima, bacalah sinopsis atau komentar tentang buku tersebut. Umumnya sebuah buku yang baik memuat sinopsis atau komentar para pakar dibidang terkait. Sinopsis dan komentar ini umumnya ditampilkan pada cover belakang buku tersebut. Apakah semua itu menggugah minat untuk mengetahuinya lebih jauh?

Keenam, pertimbangkan harganya. Sebuah buku dengan berbagai macam format ukuran dijual dengan harga yang bermacam-macam. Umumnya untuk menilai apakah harga jual sebuah buku itu mahal atau tidak, dapat diperhitungkan tebal buku, ukurannya, dan harganya.

Dan sebagai parameter minimum untuk buku-buku “lokal”, harga jual yang rasional biasanya sekitar Rp 80,00-Rp 120,00 per halaman. Misalnya, buku dengan format yang bagaimanapun kalau tebalnya 280 halaman (xxxvi hlm + 244 hlm isi), maka harganya sekitar Rp 22.400,00–Rp 33.600,00 per eksemplar. Ini dengan kondisi harga kertas tahun 2000. Kalau ukurannya saku, tentunya bisa lebih murah.

Ketujuh, lihat cetakan ke berapa. Buku tertentu disebut-sebut sebagai buku terlaris (best seller books). Artinya, terlepas dari soal mutu isinya, buku itu banyak dibeli orang. Kebanyakan buku nonfiksi dicetak sekitar 3.000 eksemplar pada awalnya. Dan untuk konteks Indonesia, jika cetakan pertama itu habis sebelum 3 bulan, maka itu termasuk buku laris.

Kedelapan, lihat daftar isinya. Kebanyakan buku yang diterbitkan penerbit terkemuka dibungkus plastik yang membuat kita sulit melihat daftar isinya. Namun toko buku yang baik biasanya menyediakan 1-2 eksemplar yang tak terbungkus, sehingga calon pembeli yang berminat dapat lebih dulu melihat daftar isinya untuk mengetahui apakah hal itu berkesesuaian dengan minatnya.

Kesembilan, sangat baik bila kita berkesempatan membaca lebih dulu resensi buku yang kita minati. Sebagian majalah mingguan dan koran edisi minggu selalu menampilkan rubrik pustaka, timbangan buku, resensi, atau sejenisnya. Hal ini dapat membantu kita menyeleksi bacaan agar mendapatkan yang bermutu.

Kesepuluh, mintalah saran dari para pencinta buku yang kita kenal. Masukan dari mereka umumnya berharga untuk dipertimbangkan.

Memang, semua saran di atas tidak memberikan jaminan 100 persen. Namun tidak berarti tidak berguna sama sekali, bukan?

Posted September 1, 2010 by susanimyut in Uncategorized

Membangun Masyarakat Pembelajar   Leave a comment

Andai semua yang telah menjadi arang ini tidak juga membuat kita bersama-sama mencari alternatif untuk menemukan kembali sekolah dan universitas ‘model baru’, maka sejarah akan kembali terulang. Karenanya guna mencegah proses pembodohan lebih jauh lewat lembaga-lembaga persekolahan, jelas diperlukan gagasan-gagasan dan eksperimen-eksperimen baru. Jejak-jejak warisan perjuangan Romo Mangunwijaya dengan Yayasan Dinamika Edukasi Dasarnya di Yogyakarta, tentu perlu diikuti. Percobaan Sekolah Alam di Ciganjur, patut didukung. Perlu juga diperbanyak ‘Sekolah Orang Tua’ seperti yang diuji coba di Bintaro. Pendirian sekolah-sekolah anak gelandangan seperti SD Imago Dei Kampus Diakonia Modern di Pondok Gede atau sekolah kolong jembatan tol-nya Rian dan Rosi, kiprah LSM Bahtera dan LSM Anak Merdeka di Ligar Jaya Bandung, patut diberi dukungan tulus. Juga perlu kembali didirikan IKIP-IKIP model baru, dengan nama apapun, yang benar-benar mencerminkan jiwa keguruan agar dapat disemai bibit-bibit Guru Bangsa di masa depan.

Yang juga mungkin perlu dirintis dari awal adalah pembentukan komunitas-komunitas pembelajar, kelompok-kelompok belajar berdasarkan minat dalam masyarakat, SD Terbuka, SLTP Terbuka, SMU Terbuka, Universitas Terbuka, sekolah khusus bagi anak-anak nelayan di sepanjang pantai-pantai negeri ini. Dan sejalan dengan itu pandangan bahwa dunia persekolahan adalah satu-satunya jalan untuk meningkatkan taraf hidup harus mulai direvisi dengan menyediakan berbagai alternatif pembelajaran diluar gedung (school without wall), agar dapat dikikis pemujaaan terhadap gelar akademis dan perlakuan sekolah sebagai “agama” dan “candu” modern yang harus dianut setiap orang.

Tegasnya, kita perlu membangun masyarakat pembelajar, yang terutama belajar membagi tugas dan tanggung jawab untuk mendampingi kamu muda mengejar jati dirinya, jati diri komunitasnya, jati diri bangsanya, jati diri kemanusiaannya sebagai ciptaan Tuhan. Kita perlu membangun masyarakat pembelajar, yang tidak lagi dan tidak akan pernah lagi, membuang tunas-tunas bangsa ke lembaga-lembaga pengajaran versi Orde Baru, tetapi yang di dalam maupun diluar institusi formal, sama-sama belajar di Sekolah Besar Kehidupan. Disanalah ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dihayati dan langsung diamalkan diam-diam. Disanalah ‘Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab’ diimplementasikan dan dipraktikkan tanpa slogan-slogan. Disanalah benang-benang ‘Persatuan Indonesia’ kita jahit kembali dengan hati-hati dan dari hati ke hati. Disanalah ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan’ kita jalankan setulus hati dengan belajar untuk saling mengerti, saling menyepakati, mengakui kesalahan, dan mengampuni tanpa dendam. Disanalah ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ kita demonstrasikan dengan sikap peduli, rendah hati, dan cinta dalam hidup sehari-hari.

Apakah itu akan mudah? Pasti tidak. Paling sedikit diperlukan satu generasi, 15-25 tahun. Tapi mungkin disitulah tantangannya, dan disitu pulalah harapannya. Dan sepanjang kita mau belajar, baik sebagai pribadi (individual learning), sebagai kelompok (team learning), maupun sebagai organisasi (organizational learning), dan sebagai sebuah masyarakat bangsa (national learning), maka pembelajaran memungkinkan tidak saja reformasi, tetapi juga transformasi dari bangsa yang memalukan menjadi bangsa yang membanggakan. Bukankah ulat dan kepompong yang “jelek” dimungkinkan berubah menjai kupu-kupu yang cantik? Dan bukankah pasir yang melukai kerang dapat diubah menjadi mutiara yang indah? Semua itu mungkin (possible), meski jangan harapkan akan mudah, apalagi seketika.

Bukankah demikian?

Posted September 1, 2010 by susanimyut in Uncategorized

refleksi: MEMBANGUN SIKAP POSITIF   Leave a comment


Oleh: Andrias Harefa

Tak ada yang dapat menghentikan orang yang bersikap mental benar dari upayanya meraih cita-cita; dan tidak ada satu pun yang dapat menolong orang bersikap mental keliru (Thomas Jefferson)
Dictionary of Behavioral Science mendefinisikan sikap sebagai “Learned predisposition to react consistently in a given manner to certain person, objects or consepts”. Sementara Webster menguraikan sikap sebagai “a manner of acting, feeling, or thinking that shows one’s disposition, opinion”. Kamus Oxford menyebutkan sebagai “way of feeling, thinking or behaving”.

Singkatnya, sikap merupakan suatu cara merasakan, cara pikir, yang berada di dalam diri seseorang dan kemudian dinyatakan dalam tindakan, perilaku, atau kebiasaan tertentu. Sikap ini dapat berkaitan dengan diri sendiri (attitude toward self), orang lain (others), pekerjaan (jobs), perusahaan atau lembaga (organization), gagasan atau ide (concepts), komitmen dan energi (misalnya waktu).

Karena sikap menyangkut pola rasa dan pola pikir, pengaruh sikap menjadi amat sangat menentukan. Dale E. Galloway dalam bukunya Twelve Way to Develop a Positive Attitude mengatakan secara tepat bagaimana pengaruh sikap terhadap kehidupan kita.

Sikap dapat menjadikan kita utuh atau menghancurkan kita, menyembuhkan kita atau melukai kita, mendatangkan sahabat atau musuh, membuat kita gelisah atau tenang, membuat kita merasa susah, malang, dan menderita atau senang, gembira, dan bahagia, menjadikan kita pecundang atau justru pemenang. Bahkan Alfred Alder (1870-1937), seorang ahli jiwa terkemuka berkebangsaan Jerman, mengatakan “Persoalan pokok kehidupan ialah sikap terhadap orang lain.”

Tetapi orang dapat juga menganggap bahwa sikap tidaklah penting. Dan membaca tulisan ini dianggap membuang waktu percuma, itulah contoh sebuah sikap. Sayangnya, itu adalah sikap negatif.

SIKAP ADALAH SUATU PILIHAN UNTUK KITA AMBIL
YANG DAPAT MENGHANCURKAN ATAU MEMBANGUN DIRI KITA

- Bagaimana sikap Anda selama ini? Dapatkah Anda menjabarkannya?
- Manakah yang lebih dominan, sikap positif ataukah negatif?
- Bagaimana dampak dari kedua sikap itu, positif dan negatif, bagi karier Anda?
- Apakah langkah-langkah konkret yang akan Anda lakukan untuk membangun sikap positif?

refleksi: MEMBANGUN SIKAP POSITIF
Oleh: Andrias Harefa

Tak ada yang dapat menghentikan orang yang bersikap mental benar dari upayanya meraih cita-cita; dan tidak ada satu pun yang dapat menolong orang bersikap mental keliru
–Thomas Jefferson


Dictionary of Behavioral Science mendefinisikan sikap sebagai “Learned predisposition to react consistently in a given manner to certain person, objects or consepts”. Sementara Webster menguraikan sikap sebagai “a manner of acting, feeling, or thinking that shows one’s disposition, opinion”. Kamus Oxford menyebutkan sebagai “way of feeling, thinking or behaving”.

Singkatnya, sikap merupakan suatu cara merasakan, cara pikir, yang berada di dalam diri seseorang dan kemudian dinyatakan dalam tindakan, perilaku, atau kebiasaan tertentu. Sikap ini dapat berkaitan dengan diri sendiri (attitude toward self), orang lain (others), pekerjaan (jobs), perusahaan atau lembaga (organization), gagasan atau ide (concepts), komitmen dan energi (misalnya waktu).

Karena sikap menyangkut pola rasa dan pola pikir, pengaruh sikap menjadi amat sangat menentukan. Dale E. Galloway dalam bukunya Twelve Way to Develop a Positive Attitude mengatakan secara tepat bagaimana pengaruh sikap terhadap kehidupan kita.

Sikap dapat menjadikan kita utuh atau menghancurkan kita, menyembuhkan kita atau melukai kita, mendatangkan sahabat atau musuh, membuat kita gelisah atau tenang, membuat kita merasa susah, malang, dan menderita atau senang, gembira, dan bahagia, menjadikan kita pecundang atau justru pemenang. Bahkan Alfred Alder (1870-1937), seorang ahli jiwa terkemuka berkebangsaan Jerman, mengatakan “Persoalan pokok kehidupan ialah sikap terhadap orang lain.”

Tetapi orang dapat juga menganggap bahwa sikap tidaklah penting. Dan membaca tulisan ini dianggap membuang waktu percuma, itulah contoh sebuah sikap. Sayangnya, itu adalah sikap negatif.

SIKAP ADALAH SUATU PILIHAN UNTUK KITA AMBIL
YANG DAPAT MENGHANCURKAN ATAU MEMBANGUN DIRI KITA

- Bagaimana sikap Anda selama ini? Dapatkah Anda menjabarkannya?
- Manakah yang lebih dominan, sikap positif ataukah negatif?
- Bagaimana dampak dari kedua sikap itu, positif dan negatif, bagi karier Anda?
- Apakah langkah-langkah konkret yang akan Anda lakukan untuk membangun sikap positif?

Posted September 1, 2010 by susanimyut in Uncategorized

Sang Maestro   5 comments


Cerpen Mer Magdal

Lahir ke dunia dan ia dinamai Salvador Dali. Terlalu berat menyandang nama seniman besar. Ayahnya begitu tergila-gila pada seniman setengah waras itu. Tanpa pikir panjang, jabang bayi yang baru lahir itu diberinama panggilan Dali. Menuruni bakat ayah, Dali tumbuh sebagai pelukis. Hingga panitia lomba lukis sempat mentertawainya ketika Dali mendaftar.

“Kalau bikin nama samaran kira-kira ,donk.”

“Itu nama asli. Mau lihat KTP?” Dali berang mengeluarkan KTP-nya.

Sang panitia hanya terbahak. Dasar seniman, pikirnya.

Bagi orang awam nama Dali tidak berpengaruh apapun. Teman-temannya hanya tahu kalau Dali itu pelukis, titik. Mereka paham jika Dali tak pernah mencatat di kelas. Setiap kali kuliah, duduk, dan terus melukis sampai jam kuliah usai. Tak pernah sibuk mengerjakan tugas dari dosen.

“Dali, ikut kami yuk,” ajak seorang teman sepulang dari kampus.

“Bawa peralatan lukismu, kita akan lama di sana.”

Kertas gambar, pinsil konte dan rapido adalah peralatan perang Dali. Dan Dali ikut saja kemana temannya pergi. Mereka tiba di sebuah barisan rumah-rumah petak berhimpitan. Lalu masuk ke salah satunya. Kamar itu remang-remang. Musik keras menyambut kedatangan mereka. Suasana pengap. Asap putih berhamburan memenuhi
ruangan. Ada bau aneh yang belum pernah Dali rasa.

“She comes in colour everywhere, she combs her hair, she likes the rainbow…” suara serak Mick Jagger memekakkan telinga.

“Kenalkan teman-teman, ini Dali si pelukis,” teman Dali memperkenalkan dirinya ke semua yang hadir.

Orang-orang memandanginya dengan tatapan mata dingin. Salah satu bangkit menjabat tangan Dali. Ia lebih tua beberapa tahun dari yang lain. Tapi jelas berjiwa muda.

“Inilah surga kami. Saat otak sarat dengan beban hidup, kami lari kemari untuk meringankan. Selamat datang, Dali.”

Kemudian tanpa dikomando mulailah sebuah ritual penyambutan. Teman Dali melinting kertas yang sebelumnya diisi daun-daun kering. Yang ada di pikiran Dali itu adalah rokok biasa, seperri yang biasa dihisap kebanyakan orang. Dibantu yang lain, lintingan itu bertambah banyak. Di sekitarnya orang-orang seperti tak sabar menunggu. Musik kian keras. Udara tambah pengap. Lintingan mulai dinyalakan dan diedarkan dari satu tangan ke tangan lain.

Giliran Dali menerima. Seperti yang lain, ia harus menghisapnya. Hisapan pertama Dali terbatuk. Yang lain terbahak menyaksikan. Dali menghisap lagi, kepalanya terasa pusing. Mata berarir. Pelukis pemula itu belum tahu benda apa yang dihisapnya. Habis lintingan di tangan, seseorang menyodorkan yang baru. Begitulah Dali terus menerus dicekoki.

Sejak hari itu Dali jadi ketagihan lintingan. Selesai kuliah ia bergabung dengan teman-teman menuju tempat biasa. Untuk selanjutnya Dali harus membayar setiap linting yang dihisap. Keluarga Dali tak pernah tahu anaknya menjadi pecandu. Mereka hanya tahu kalau Dali keluyuran untuk mencari ilham lukisan. Demikian juga kalau Dali mengunci diri di kamar.

Ya, sejak menghisap lintingan itu inspirsi yang datang jadi aneh-aneh. Dali suka itu. Lukisannya jadi punya ciri tersendiri. Maka kebutuhannya akan lintingan-lintingan ajaib itu bertambah besar.

“Uang lagi? Untuk apa? Bukankah kemarin kau baru minta uang buat beli cat?” Ayah Dali heran akan seringnya Dali minta uang.

“Buat beli diktat, sebentar lagi ujian.” Dali berbohong.

Dan uang pun didapat dengan mudah. Dali langsung ke tempat biasa ia mendapat rokok ajaibnya. Teler di sana, sebagian dibawa pulang ke rumah. Ayah Dali kagum dengan hasil lukisan anaknya belakangan ini. Tambah artistik dan punya ciri.

“Dali sudah menemukan alirannya,” pikr ayahnya.

“Apa dia tak terlalu banyak melukis?” tanya Ibu Dali.

“Dia rajin kuliah, Bu. Masa kau tidak perhatikan itu,” sergah sang ayah.

“Kau harus hati-hati membawanya. Jangan sampai diketahui orang luar termasuk keluargamu,” begitu pesan seorang teman.

“Ya, sekarang aku sedang butuh sekali. Sudah beberapa hari ini aku tak pakai dan inspirasi jadi macet. Aku tak bisa melukis tanpa benda itu,” Dali mendesak.

Lama Dali baru sadar bahwa lintingan-lintingan yang sangat ia butuhkan itu adalah gele alias ganja. Ada rasa takut menghinggapi. Namun kebutuhannya akan benda laknat itu membuatnya tak peduli. Setiap kali sehabis menghisap lintingan itu ada inspirsi aneh timbul. Diambilnya kuas dan cat, lalu mencorat-coret di atas kanvas. Hasilnya luar biasa. Dali puas. Hilang sudah ketakutannya.

Tanpa terasa lukisan Dali sudah banyak sekali. Hampir tak ada tempat di rumah untuk menampungnya. Ayah Dali sangat bangga. Ia mengundang beberapa teman kritikus seni untuk menilai lukisan anaknya.

“Fantastis! Luar biasa! Seorang Salvador Dali junior telah lahir!” Begitu komentarnya.

“Generasi penerus aliran surealis!” kata yang lain lagi.

Dan masih banyak komentar lain mengagungkan karya Dali. Itu membuat Dali semakin gila melukis. Kuliahnya berantakan. Bagi ayah Dali itu tak masalah, sebab karir Dali sebagai pelukis lebih penting. Kelamaan ayah Dali heran juga atas kebutuhan anaknya yang kian membengkak.

“Sebetulnya buat apa uang itu, Anakku? Jujurlah, ayah takkan marah.”

Dali tak berani berterus terang. Sama saja bunuh diri. Dan ia terus berbohong. Mungkin ayahnya tak percaya tapi uang itu tetap diberikan.

Teman-teman Dali selalu berbaik hati memberi berapa saja jumlah lintingan ganja yang dibutuhkan. Pelukis itu jadi pemasok dana terbesar. Kebutuhannya akan lintingan itu melebihi yang lain. Dali jadi seratus persen tergantung pada benda laknat itu. Bahkan ia tak bisa lagi berbuat apa-apa tanpanya. Apalagi ayah Dali terus mendesak agar anaknya berkarya lebih baik lagi. Dali semakin terperosok dalam kekuasaan asap-asap putih.

“Sebuah pameran, kau dengar itu Dal? Kau akan menggelar pameran bersama beberapa seniman muda ternama lain. Kau dan karya terbaikmu!” Ayah Dali menyampaikan kabar baik dengan wajah berbinar di suatu hari.

“Siapa yang membuat, Yah?”

“Kau tak tahu hampir semua kritikus seni mengakui kehebatanmu, Nak?”

Dali hanya terdiam tanpa ekspresi. Dia serupa robot yang digerakkan ayahnya dengan bahan bakar ganja.

“Dan kalau pameran itu sukses mereka menjanjikan pameran tunggal buatmu…”
Entah apalagi yang diucapkan ayahnya. Dali tak bisa menangkap jelas kata-katanya. Pikirannya hanya mengelangut jauh. Pameran? Itu berarti karyanya akan dinilai banyak orang. Ia harus menghasilkan karya yang lebih baik. Itu berarti semakin banyak membutuhkan lintingan ganja untuk memancing inspirasi. Semakin banyak pula uang yang dibutuhkan untuk membeli. Dali memutar otak. Apalagi cara untuk mendapat uang? Ia sudah terlalu banyak berbohong pada ayah. Lalu diputuskan untuk mengambil uang tabungan. Sebetulnya itu simpanan untuk masa depan. Persetan masa depan, yang penting sekarang.

Begitulah, Dali menggerogoti uang tabungan hingga ludes sama sekali. Pamerannya sukses. Beberapa lukisannya terjual dengan harga tinggi. Uang yang didapat langsung dibelikan ganja dan mentraktir teman-teman.

“Tidak percuma kita punya teman pelukis ulung. Ayo kita fly sampai pagi!” Teman-teman Dali mengagungkan dirinya. Juga semua orang yang mengenalnya. Ayahnya, keluarga, pecinta seni, hingga para berandal tengik jalanan yang sering ditraktirnya.

Mau tak mau Dali harus memenuhi keinginan ayahnya untuk mengadakan pameran tunggal. Semua sudah tersedia. Tinggal karya-karya Dali yang ditunggu. Untuk itu Dali butuh banyak sekali ganja demi lancarnya inspirasi. Tapi uang sudah ludes.

“Ayolah, akan kubayar nanti setelah pameran,” Dali mendesak temannya.

“Ya, aku percaya pameranmu pasti sukses. Oke, ambil berapapun yang kau butuhkan. Akan kucatat semua hutangmu.” Dali terlibat hutang cukup besar. Semua temannya yakin ia mampu membayar, bahkan lebih dari harga biasa.

Dan begitulah hidup Dali terus berlangsung. Teler, melukis, berpameran. Berhutang, teler lagi, melukis lagi. Kuliah sudah lama ditinggalkan. Tidak masalah, karena ia seorang seniman besar. Semua bangga pada Dali. Tak ada hal lain yang dipikirkan Dali selain melukis dan mabuk. Ia menarik diri dari pergaulan anak muda. Melukis adalah pekerjaan mencari nafkah. Semua menjulukinya jenius. Tapi ia sendiri merasa tak lebih sebagai mesin produksi. Keadaan ini membuat Dali frustasi. Untuk mecari jalan keluar, dicarinya cara lebih ampuh.

Seorang teman menyodorkan serbuk putih lembut. Jika dihirup akan membuat perasaan jadi nyaman. Dali bisa melupakan semuanya. Hidup jadi lebih ringan.
“Barang ini lebih mahal dari yang biasa. Mendapatkannya juga lebih susah.”

“Berapapun harganya akan kubayar sesudah pameran,” Dali tertarik setelah mencoba beberapa saat.

“Pameran? Pameran apa? Kau tak pernah lagi melukis. Kerjaanmu hanya teler di sini.”

“Lukisanku masih banyak, jadi tak perlu melukis. Akan kubayar sesudah pameran seperti biasa!” Dali mendesak geram.

Setelah mendapatkan serbuk kristal putih itu, ia asyik tenggelam dalam dunianya sendiri. Tapi kini ia tak mampu melukis lagi. Inspirasi datang dan pergi tanpa memberi kesempatan untuk menuangkannya dalam kanvas. Itu justru membuat Dali menambah dosis serbuk putih yang dihirup. Ia lupa bahwa sebentar lagi pameran tunggalnya yang entah keberapa akan segera dibuka di sebuah hotel bintang lima.

Sementara itu ayah Dali kebingungan. Pameran akan dimulai beberapa menit lagi tapi Dali tak kunjung pulang. Akhirnya mereka sekeluarga menuju ke hotel dengan harapan Dali sudah berada di sana.

Ternyata ruang pameran sudah ramai pengunjung. Semua orang menunggu sang pelukis tiba untuk peresmian pembukaan pameran karyanya. Menteri, pejabat, selebriti, seniman dan pencinta lukisan hadir.

Satu jam, dua jam. Dali tak kunjung muncul. Pengunjung mulai kehilangan kesabaran. Keluarga Dali yang paling panik. Tak lama terdengar bisik-bisik antar pengunjung. Wartawan sibuk mencari informasi. Ternyata ada yang baru datang. Seorang pria tegap tampil di tengah podium.

“Mohon perhatian, para pengunjung sekalian. Acara pembukaan pameran lukisan karya Salvador Dali terpaksa dibatalkan. Izinnya dicabut beberapa jam lalu.” Suaranya tegas terdengar jelas. Hadirin gempar. Keributan terjadi. Wartawan mengerumuni pria yang tertnyata adalah polisi itu.

“Apa alasan pembatalan izin itu, Pak?”

“Dimana Salvador Dali?” Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan.

“Tenang…tenang…semua akan dijawab satu-satu,” orang itu menjawab lantang.

“Dengan berat hati saya sampaikan, terutama untuk keluarga yang bersangkutan. Seniman Salvador Dali ditemukan overdosis sejam yang lalu. Ia bersama teman-temannya dipergoki menggunakan obat terlarang. Kini mereka dalam perjalanan ke rumah sakit.”

Ayah Dali ambruk. Ibu Dali menjerit histeris lalu pingsan. Pengunjung gempar luar biasa. Wartawan sibuk menjepretkan kamera sana-sini. Suasana jadi rusuh.

***

pinggiran jakarta, oktober 1993

Posted Agustus 18, 2010 by susanimyut in Inspirasi

DONGENG DARI SEBERANG KABUT   8 comments


Cerpen Ningrum Dewajati

Sekonyong, perempuan telanjang dengan perut busung itu muncul begitu saja di ruang kerjaku yang dingin. Sebagai sesama perempuan, aku begitu shock. Aku memang telah terbiasa melihat perempuan dewasa bugil di berbagai situs di internet. Tapi tidak dalam situasi seperti ini. Bagaimana bisa perempuan ajaib itu begitu mudah melewati sekretaris kantorku yang cerewet seperti kakatua? Bagaimana pula aku bisa sama sekali tak mendengar ketukan, derit pintu, atau detak sepatu sekalipun? Mungkinkah kerna aku sedang tersihir berbagai hasutan dunia maya yang sedang muntah dari laptopku? Ataukah dentaman musik Scorpion mampu membius seluruh syaraf di telingaku?
Perempuan itu tertawa renyah menyambut kegugupanku. Sambil memainkan rambut panjangnya yang bergelombang, dengan santai ia menduduki ujung meja kerjaku. Kali ini ia angkat kaki sebelahnya di atas meja. Seolah sedang rileks dibibir bathtub saja. Tanpa kuduga, betisnya yang sekuning gading ia sorongkan ke wajahku. Aku tersentak. Herannya tiba-tiba aku tercekat tanpa mampu bersuara. Bagaimanapun aku perempuan normal ( malangnya, selama ini aku masih saja perawan). Aku bukanlah gadis lesbi penyuka sesama jenis. Maka onggokan daging hidup di depanku itu justru membuat aku bergidik. Apalagi sempat kulihat isi perutnya sesekali bergerak menggelinjang. Betul-betul membuatku mual.
“Kaget ya…! Hahaha… ! Namaku Ivana. Dan kau pasti Lara, Larasati. Ya, nama perempuan busuk yang selalu disebut dan dipuja setiap laki-laki
beristri. .” Dadaku berdegup. Baru kali ini aku benar-benar berdebar.
“Kuntilanak macam mana kau? Urusan macam apa yang buatmu tiba-tiba datang dengan tingkah menjijikan seperti ini?” Gertakku gagap. Perempuan dengan gincu merah saga dibibirnya itu kembali tertawa lebar. Menertawakan ketakutanku tentu saja.
“Kuntilanak katamu? Hahaha! Rabalah tubuhku. Aku begitu nyata. Begitu pula bayi sembilan bulan diperutku. Tidakkah barusan kau lihat tendangannya yang begitu kuat, yang bisa saja menampar pipimu bila ia mau?”
Aku tertegun. Nanar kuamati perempuan gila yang misterius itu. Langsat betul. Hanya saja terlihat kurus untuk ukuran perempuan bunting barangkali. Payudaranya menggantung begitu saja seperti pepaya. Kecil dan lembek. Sama sekali tidak seksi. Iganya juga terlihat menonjol dibeberapa bagian tubuhnya. Andaikan ia tak melumuri bibirnya dengan gincu, maka meskipun cantik, ia bukan perempuan menarik

Posted Agustus 18, 2010 by susanimyut in Motifasi

Gadis Payung Hitam   Leave a comment


Cerpen Sholihul Hadi

Widi tak habis pikir ketika tiba-tiba seorang gadis telah berada di hadapannya. Segelas es teh kandas separoh — kenikmatan di puncak kemarau, hari yang panas. Persis di depan warung makan pasar Sakagiri gadis itu hanya diam disertai tatapan mata memelas. Jarinya mempermainkan tangkai payung hitam yang separoh menutup wajahnya.

“Lapar, Dik?”

Tak keluar jawaban dari mulutnya kecuali tubuhnya molat-molet sambil tangannya memutar-mutar gagang payung. Wajahnya kumal. Begitu pula kaos yang membungkus tubuhnya, tipis kusam seperti saringan santan. Bola matanya masih menatap ke arah Widi seakan penuh harap minta diterjemahkan.

“Siapa namamu. Belum sarapan?”

Ia membalikkan wajahnya pertanda bukan itu yang dia mau.

“Mbah Ewa tahu anak siapa itu?” katanya kepada pemilik warung dijawab gelengan kepala. Dua ribu perak untuk segelas es teh dan sepiring nasi dilemparkan begitu saja ke atas meja. Tapi, mata itu, mata itu, seperti ingin terus mengajaknya bercakap, berkabar tentang sesuatu yang dia sendiri belum tahu.

Mungkinkah ia anak pengemis kaki satu yang sering singgah di rumahnya minta sebungkus nasi tiap akhir pekan, ataukah ia pelarian dari sebuah panti asuhan. Mungkinkah ia bawa pesan penting untukku sedang orang lain yang bergerombol di warung ini pun tak diperhatikan.

“Mencari siapa?” Aku bermaksud mendekat tapi urung begitu wajahnya cepat-cepat ditenggelamkan di balik payung hitam, seperti bekicot.

Kupandangi gadis itu. Tubuhnya timbul tenggelam ditelan laju ora

Posted Agustus 18, 2010 by susanimyut in Tips-tips

Cinta Buta   3 comments


Cerpen Hari Siswadi

Hari ini adalah hari ini. Dan hari ini bukanlah hari yang kemarin. Sebab hari yang kemarin bukanlah hari ini. Begitu juga lusa. Setidaknya begitu. Sepertinya memang begitu. Seharusnya mesti begitu. Bisakahku?

Seperti hari yang kemarin aku selalu melihat mereka. Sepasang muda-mudi yang berjalan selalu beriringan. Sepasang muda-mudi yang selalu menyunggingkan senyuman. Sepasang muda-mudi yang selalu menampakkan wajah berseri-seri. Sepasang muda-mudi yang selalu membuatku iri. Oh, adakah mereka mengerti?

Hari ini, seperti hari yang kemarin, aku melihat si pemuda dengan sepotong tongkat di tangannya selalu berjalan di depan si pemudi. Seolah-olah si pemuda siap melindungi si pemudi dari semua aral yang sedia merintangi. Sementara itu bagian pinggang bajunya selalu digamit oleh tangan si pemudi. Seakan-akan tak ingin lepas jauh darinya. Rupanya hari ini mataku disajikan sebuah kesetiaan sejati yang tengah dia jalani. Termasuk cinta butakah ini?

Selalu saja aku melihat mereka berdua seperti hari yang kemarin. Selalu saja aku melihat mereka berdua yang sepertinya mampu menatap dunia di hadapan. Walau hanya dengan hati di genggaman. Walau hanya dengan rabaan tongkat di tangan. Walau hanya dengan cinta di pelukan. Walau hanya dengan buram di pandangan. Oh, mampukah aku dan dunia menerimanya sebagai sebuah pelajaran?

***

(Seperti kata Melly Goeslaw, akupun ingin mencintai dan dicintai!)

Posted Agustus 18, 2010 by susanimyut in Motifasi

Hello world!   1 comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted Agustus 4, 2010 by susanimyut in Inspirasi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.